Kulit Rambutan


Aku patah hati. Puluhan kulit rambutan yang berserakan di kamarkulah buktinya. Loh, kalian pasti bertanya-tanya apa hubungannya rambutan dengan patah hati? Mau jawaban jujur atau jawaban sok serius?

Uhm, dua-duanya? Baiklah, akan kujawab dengan jawaban yang sok serius dulu. Analisisnya: aku adalah gadis yang sangat teratur. Kamarku sangat rapi dan bersih. Aku tak menyediakan tempat luas untuk menebar sampah di kamarku.

Satu-satunya sudut yang kuperkenankan menampung sampah hanya keranjang plastik di pojok dekat kamar mandi. Jadi, jika aku menebar kulit rambutan di lantai, tak mungkin aku berada dalam kondisi waras. Pasti aku lagi bermasalah.

Jawaban jujur? Hehehe, sebenarnya tak ada hubungannya sama sekali. Aku lagi senang makan rambutan saja, dan aku malas mengambil tempat sampah ke depanku, jadi kubiarkan saja kulit buah berwarna merah itu bertebaran di lantai sementara aku menikmatinya sambil tersedu-sedu menonton DVD serial Korea.

Tapi beneran, walaupun keliatannya aku masih bisa bercanda, aku memang patah hati. Aku tak tahan harus memendam perasaanku dan membiarkan Bayu bercerita padaku segala macam tentang perempuan yang ia gilai. Malah aku yang jadi gila. Aku frustrasi. Makin kuat upayaku melupakannya, makin ia berbekas di hatiku. Seperti cetakan tangan selebriti Hollywood di atas semen.Dan mengejarnya pun seakan mustahil, karena ia juga sedang jatuh cinta. Pada orang lain.

Ah … tuh kan … langsung deh band bau itu bernyanyi ¯tetes air mata basahi pipiku¯. Ah mewek deh gue. Tunggu bentar yah, aku mau nyari tissue dulu. Huhuhuhu … srrotttt … Ah maaf yah aku jorok. Udah cengeng jorok lagih. Manis rambutan bercampur rasa asin ingus dan air mataku. Ah, kalau aku kacau terus seperti ini, mana mungkin Bayu suka padaku? Halo … bumi pada Lila … menjejaklah tanah!! Beresin tuh cangkang rambutan, jangan nangis bombay kayak bintang film India, dan lupakan Bayu! Srotttt.

“Lilaaaa … neng Lila sayang … Bayu telfon!” teriak Mamah. “Bentar ya Bayu … Lila lagi di kamar, kayaknya lagi nonton DVD, soalnya dari tadi nggak keluar-keluar.” Sayup-sayup aku mendengar suara mamah mencoba merayu kecenganku. *cemburu mode on*. Separuh berlari aku menuju pesawat telepon dan merebutnya dari ibuku.

“Bayu?”

“Eh Lama … lagi ngapain lu?”

“Nama gue Lila! Bukan Lama!”

“Lila itu kan artinya lama, lelet, lemot! Hahaha…gak penting! Peer Kimia udah blom?”

“Ya penting lah … Nama gue Lila! Seenaknya aja maen ngubah nama! Peer kimia blom, gw lagi nonton DVD! Tar malem ajah. Atau klo males, besok pagi aja. Buat apa ada Rini di kelas kita?”ujarku malas.

“Tumben lu pemalas gitu! Biasanya kan lo kan rajin. Cuma dua nih yang bisa bikin miss rajin jadi miss males. Kalo nggak jatuh cinta…ya patah hati! Hahahaha! Eh tapi Li, ngerjain bareng yuks! Gue ke rumah lo ya?”

“Sok tau lo! Sapa juga yang jatuh cinta! Elo kan? Gw males ah ngerjain peer sama lo, Bay! Paling lo mau curhat soal Fary lagi!” sahutku ketus.

“Nggak kok … setengah jam lagi gw nyampe yah!Dah!”

Klik. Suara Bayu di sana terputus. Aku melongo dengan suara tiiiiiit panjang datang dari pesawat telepon dalam cengkeramanku. Aku belum mendapatkan kesadaranku kembali saat Mamah melintas di depanku dan melihatku mematung.

“Neng … masih bicara sama cep Bayu?” Aku tak menjawab. Mamah menatapku heran, ia melepaskan gagang telepon dari genggamanku dan meletakkannya di tempat semula. Aku masih kaku. “Lila, ari kamu teh kunaon? Edaaas … eh, ada apa kenapa sampe mematung gitu? Lila? Neng! Tong nyingsieunan Mamah lah! Tega mun mamah tiwas sakit jantung? Neng Lila!!”

“Bayu….!” Kataku sambil menunjuk-nunjuk telepon. Aku masih belum kembali ke dunia nyata.

“Kenapa cep Bayu?”

“Bayu Mah … aduh … Si Bayu mau kesini Mah! Ada cemilan gak? Minuman ada apa aja Mah? Capucinno Mah … Aduh, ruang tamu berantakan. Gawat. Si Ujang sih abis maen ga diberesin. Mamah, ini gimana? Aduh Mamah Bay mau ke sini!” kata-kataku merepet seperti kartu domino. Jarang-jarang Bayu datang ke rumah. Sejak sekelas dengannya 6 bulan lalu, Bayu baru sekali main ke rumahku. Kami memang berteman dekat, tapi cuma di sekolahan. Nelepon ke rumah aja jarang. Dia lebih sering SMS untuk menanyakan peer, atau curhat soal Fary. Nah tentang Fary, curhatannya ga ada kemajuan. Aku sampai gemes sendiri. Sebenarnya Bayu itu suka nggak sih sama Fary? Katanya suka, tapi kok nggak ada usaha. Maunya apa sih?

“Apa yang berantakan La? Semua baik-baik aja kok. Cemilan kan banyak di lemari. Ada es krim juga kan di kulkas. Ari kamu teh kenapa sampai panik kayak gitu?” tanya Mamah dengan logat sundanya yang sekental santan.

“Heeee!” aku menyeringai dengan gaya Agnes Monica di sinetron Kawin Muda. “Nggak apa-apa Mah! Lila ke kamar dulu ya?”

Aku langsung frustrasi saat kembali ke kamarku. Ampun. Berantakannya. Kulit rambutan, tissue bekas, dan keping DVD berceceran di mana-mana. Segera kuambil sapu dan pengki untuk membereskan kekacauan ini. Kulirik jam dinding yang tergantung di sisi kamarku yang berwarna kuning, masih duapuluh menit lagi hingga Bayu tiba disini. Saatnya mandi. Harus wangi waktu ketemu Bayu nanti. Ah, senangnyaaaa … asal jangan ngomongin Fary aja.

Sebelum mandi, aku memeriksa kantong kresek yang tadinya berisi tiga kilo rambutan. Masih ada setengahnya. Hmmm … masih bisa dihidangkan. Oke deh.

***

Bayu terlambat sepuluh menit dari yang dijanjikannya. OMG oh my god…pujaan hatiku datang, ujar hatiku norak. Kalau bisa, akan kujentik hatiku yang norak itu biar diam. Apa-apaan sih … pujaan hatiku. Iiiih … perasaan yang bikin alergi.

“Hai Lila …!” Bayu merentang senyum manis di wajahnya. Oh Lila, berjanjilah kamu nggak akan pingsan. Biasa aja. Cool … ini Bayu yang sama yang ada di sekolahan, yang pake putih abu itu. Ini Bayu, bukan Jesse McCartney. Tenang aja. Tapi oooh, kenapa dia charming banget. Uuuuh…Ah Lila, norak. Norak. Norak. Aku begitu terpesona sampai tak menyadari kalau Bayu nggak bawa tas, dan nggak bawa buku juga. Ia langsung kubawa duduk di sofa dan aku wara wiri bolak balik mencoba menghidangkan semua jenis makanan yang tersedia di kulkasku. Oke Lila, kamu mulai berlebihan.

“Li … udah gak usah repot begitu. Cukup-cukup. Lo duduk aja di sini!”

“Iya, tapi kan…!”

“Li…!”

“Tapi kan, lebih enak kalo belajar banyak makanan!”

“Li, lo gak liat gue ga bawa buku?”

“Bukannya … kita … mau … belajar bersama?” tanyaku linglung. Aku tertegun dan mulai memeriksa Bayu. Benarkah ia tak membawa buku? Trus kalau begitu untuk apa dia kemari? “Bay…bukannya kita mo ngerjain peer bareng?” tanyaku lagi. Bayu tak menjawab dan malah menyeringai. Tampangnya mengatakan; gue males! Tar aja nyontek Rini. Ah kacau.

“Tadi pas denger lo lagi nonton DVD gw jadi latah pingin nonton. Gue belom nonton Eragon, Li! Gue penasaran. Katanya pas bagian telur Saphira menetas tuh bagus banget visualisasinya! Gue pengen tau, apa filmnya sekeren bukunya!”

Haaa? Nggak salah nih? Bayu? Ngajakin aku nonton? Kok ga dateng ke Fary aja? Senyumku mulai mengembang. Bayu menatapku menunggu jawaban. Dalam hati aku sudah bersorak terlebih dulu. Yippe!!!

“Bawa rambutan ke bioskop boleh nggak Bay?” dengan senyum mengembang kusodorkan rambutan seplastik gede.

***

Aku sakit perut gara-gara overdsosis rambutan. Tenggorokanku juga sakit karena hujan turun lebat sekali sepulang kami dari Blitz Megaplex. Aku lupa nggak bawa payung. Hmmm, kupikir tak ada gunanya juga berpayung sambil boncengan di motornya Bayu. Mending hujan-hujanan aja sekalian. Lagipula, tanganku bisa bebas memeluk Bayu. Jika baju kami basah kuyup saat kami tiba di rumahku, itu resiko.

Aku mulai bersin-bersin setelah merasa hangat dan bersih. Hujan masih tercurah lebat ketika aku selesai mandi, dan Bayu menunggu hujan reda mengenakan kaos gombrang kering milikku. Kami bergabung dengan Ujang yang sedang menonton DVD film kartun di ruang tengah. Ujang adikku, nama aslinya adalah Panji. Entah kenapa tiba-tiba semua orang memanggilnya Ujang.

Sampai jam sembilan malam, hujan masih saja lebat. Acara menonton DVD digantikan dengan main PS. Ujang dan Bayu sangat asyik hingga melupakanku. Menyebalkan. Kutinggalkan saja mereka berdua lalu mengemil rambutan di kamarku sambil melanjutkan sisa episode serial Korea yang kutonton tadi pagi. Aku makan rambutan sampai perutku begah dan mulutku kesat.

Dan gara-gara rambutan itu, sekarang di sekolah, sejak jam pelajaran keempat tadi, aku harus berdiam di ruang UKS dengan dorongan ke kamar kecil setiap berapa menit sekali. Perutku sakit sekali jika berkonstruksi.

Berita bagusnya, aku berbunga-bunga. Sepanjang hari kemarin, tak ada satu kalimat pun menyangkut Fary. Hanya ada aku, dan Bayu.

“Hay La!” lamunanku terhenti. Di pintu, berdiri sosok Fary yang menjulang tinggi. Jilbab putih membingkai wajahnya yang ayu. “Kata Bayu kamu sakit yah?”

“Hehe, sakit yang norak Ry … menwa ..mencret wae … kebanyakan makan rambutan sih..! Eh tumben kamu ke sini?”

“Anak-anak lagi pada di kantin, aku puasa. Denger kamu sakit ya aku ke sini aja nemenin kamu. Kamu udah makan kan?”

“Udah ry… eh makasih ya kamu udah nengokin aku!”

“Bayu udah nengok kamu?” tanyanya tiba-tiba. Aku mendongak terkejut.

“Ah, ngapain Bayu nengokin aku?” aku balik bertanya.

“Kalian kan deket banget! Masa dia gak nengokin kamu!” aku tersenyum terpaksa ketika mendengar kata-kata Fary. Lalu hening. Hanya gaung AC yang terdengar. Aku bingung harus ngobrol apa sama Fary.

“Lila …!” panggil Fary ketika akhirnya salah satu dari kami buka suara. “Kamu beruntung..!”katanya lirih. Aku menatapnya bingung.”Bisa mendapatkan cinta Bayu!” Perutku tiba-tiba berkontraksi waktu Fary selesai mengucapkan kata-kata itu.

“Maksud kamu Ry?”

“Iya..dia sering cerita, kalau dia jatuh cinta sama kamu!” Sakit di perutku semakin menjengit meremas usus-ususku. “Kenapa kamu nolak cintanya Li? Padahal aku menanti dia mengucap kata-kata itu!” Suara Fary makin lirih, penuh sesal, menghujam, dan menghakimiku. Aku terpuruk dalam kebingungan. Maksud Fary apa?

“Lamaaaaa! Norak banget sih lo, kena diare! Hahahaha!” Bayu tiba-tiba menyeruak masuk. Ia langsung tertegun tatkala melihat Fary berwajah sendu menahan isak. “Eh, hey Ry! Udah lama?”

“Udah, Bay! Eh aku pergi dulu ya La, cepet sembuh!” Fary langsung pamitan waktu melihat Bayu.

“Makanya…jangan maruk! Rambutan tiga kilo diabisin sendiri!” celanya. Tak peduli pada Fary yang keluar dari ruangan ini membawa pedih. Pletak. Tangannya mampir di kepalaku. “Tenggorokan lo gimana? Masih sakit juga? Lo kuat balik lagi ke kelas ga? Klo ngga gw anterin lo balik yah!” Aneh. Bay, Fary, aneh banget.

“Bay …!”

“Apa sayaaaang …!” godanya. Masih dalam canda.

“Lo beneran sayang sama Fary?” tanyaku hati-hati. Bayu terkejut mendengar pertanyaanku. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba … “Aduh!” perutku melilit-lilit lagi. Kali ini ada sesuatu yang ingin dikeluarkan dari tubuhku. “Bentar gue ke toilet dulu Bay!”

***

Aku sukses terkapar di ranjang selama 2 hari berikutnya. Diareku sudah sembuh, tapi penyakitku berganti dengan demam tinggi dan flu berat. Aku heran kenapa Bayu nggak ikutan sakit. Padahal kan dia sama-sama makan rambutan dan sama-sama ujan-ujanan juga. Pertanyaanku belum Bayu jawab gara-gara panggilan alam. Aku penasaran, sebenarnya perasaan Bayu sama Fary tuh kayak gimana sih? Kok Fary ngomong begitu ya? Bikin bingung aja.

Kenapa padaku Bayu bilang lagi jatuh cinta sama Fary, sedangkan pada Fary ia bercerita tengah kasmaran padaku, dan patah hati karena kutolak. Maunya apa?Dasar orang aneh.

“Lila….aya cep Bayu diluar. Gimana, mau disuruh masuk atau kamu yang ke luar?”

“Bentar mah … biar Lila aja yang keluar!” sahutku. Kamarku berantakan dan aku terlalu lemas dan sakit untuk membereskan kekacauan ini. Kuseret kakiku menuju ruang tengah dan menemukan laki-laki berhidung merah itu lagi mengupas rambutan. Hatchsyiw….

“Eh, hai Li…!” sapanya setelah bersin, lalu menarik ingus, membuangnya dengan tissue. Jorok.

“Pucet banget lu!” komentarnya setelah melihat wajahku. Rambutan yang tadi dikupasnya menghilang dibalik mulutnya.

“Basa basi gak penting tauuu! Ya iyalah pucet…gue kan lagi sakit, oon!!! Lo juga…kenapa idung lo merah gitu? Kayak Rudolf the red nose reindeer! Heuheuheue!” Aku duduk di sebelah Bayu dan merasakan badanku tambah merasa panas.

“Gak ada lu di kelas sekolahan sepi, Li!”

“Hahaha! Kenapa? Kangen ya sama gue?” tanyaku sambil meleletkan lidah. “Uhm, gimana yah, makhluk cantik kayak gue ini emang ngangenin sih!” kataku. Tangan Bayu meraih jemariku. Matanya menatapku dengan pandangan aneh. Eh, ada apaan nih?

“Kenapa lo Bay?” kutarik tanganku dari genggamannya.

“Nggak kenapa-napa…makhluk cantik kayak elu emang ngangenin!”

“Hee??” aku mulai menyeringai buas. “Trus Fary gimana??”

“Maksud lo Li?”

“Bukannya lo lagi pdkt sama Fary? Kenapa lo ngerayu-rayu gue? Beneran demam lo ya? Apa gue yang lagi disorientasi? Ga bisa bedain mana kenyataan mana hayalan?”

“Emang gue lagi pedekate sama Fary, Li!”

“Trus ngapain lo di sini? Datengin aja rumahnya!” sahutku ketus.

“Lu cemburu ya?”

“Ngapain gue cemburu?” tanyaku defensif padahal iya cemburu.

“Lu cemburu sama Fary!”tuduhnya. Aku melengos. Benar-benar tersinggung dan tidak terima pada kebenaran yang meluncur dari mulut Bayu. Menyebalkan, harus gitu dia membahas ini terang-terangan dan mempermalukanku seperti ini?

“Udah ah, gue mau tidur lagi!”

“Bentar Li! Jangan dulu balik ke kamar lo! Gue seneng kok elo cemburu! Soalnya itu berarti…berarti…” Bayu mulai tersipu-sipu nggak jelas. “Berarti lo sayang sama gue juga!”

“Sebaiknya lo pulang dan minum obat deh Bay! Lo kayaknya lagi ngigo deh! Sakit-sakit kok dateng kesini!” jawabku setelah susah payah menelan ludah dan mengatur pernapasan. Seluruh tubuhku gemetar, setengah lumpuh. Entah efek demam, kata-kata Bayu, atau keduanya.

“Gue serius, Li! Gue bukan mau maenin elu! Dulu gue emang pdkt sama Fary, tapi deket sama elo bikin gue berubah. Gue mau elu, Lila!”

Mendengar kata-kata Bayu barusan malah bikin aku hilang selera. Cepat sekali Bayu berubah pikiran. Rasanya baru kemarin dia curhat betapa ia mencintai Fary. Sekarang dengan mudahnya ia berpaling padaku. Kepalaku langsung migren.

“Bay …  sebaiknya lo pulang deh! Gue pusing!” kataku. Kutinggalkan ia di ruang tengah.

***

Saat aku keluar dari kamar untuk ke toilet, Bayu masih disana. Main PS sama Ujang. Kulit rambutan berserakan disekitarnya. Mereka tak mengindahkanku waktu aku lewat.

Uh … aku makin ilfiiiiiiiii!!!!!!!!!

From: Majalah Kawanku, Maret 2007

7:05 PM | Posted in , | Read More »

Menikah

Kebaya biru itu menempel ketat di tubuhku. Aku sesak. Stagen itu memperkecil ukuran pinggangku hingga dua inci. Diet ketat tidak berpengaruh terhadap berat badanku. Aku sangat tersiksa. Perias baru saja menyelesaikan make upku. Dia tak henti bersungut-sungut kesal sejak aku bersikeras tidak mau mengerik dan merapikan alisku. Dia sudah putus asa dan ingin pergi, bahkan rela tak dibayar kalau saja bukan karena nenekku. Ia tak mau membuat keluarga nenekku malu karena pengantinnya tidak terlihat bercahaya. Memang serba salah… bentuk alis yang tidak sempurna akan mengurangi penampilan sang pengantin, tapi riasan yang tidak tuntas itu lebih parah. Akhirnya ia menyerah, menggunakan berbagai trik agar alisku terlihat bagus tanpa dikerik.

Ritual riasan selesai. Bu Tami, periasnya sudah tak mau bicara denganku. Untuk pengantin-pengantin lain, biasanya ia akan memberikan pengarahan mengenai upacara pernikahan dan nasehat-nasehat seputar malam pertama, tapi ia dendam padaku. Aku tak peduli. Aku yang akan menikah! Aku tahu apa yang harus kulakukan, aku tak takut pada malam pengantin. Tak perlu nasehat Bu Tami, karena aku sudah tahu!

Ia meninggalkanku sendiri setelah pekerjaannya selesai. Asisten-asistennya mengikutinya. Aku tahu, pernikahanku akan menjadi skandal sepanjang masa diantara para perias pengantin. Tapi, lihat aku di cermin! Aku kelihatan cantik sekali. Kebaya biru untuk menikah…(bukannya akad itu memakai kebaya putih?)

Menikah? Tiba-tiba kata itu terdengar sangat menyeramkan. Kuulangi lagi kata itu. Terasa asing di lidahku. Menikah dengan siapa? Kok aku jadi bingung gini sih? Dengan siapa aku akan menikah? Kenapa aku ada disini? Hey…kapan aku di lamar? Mengapa tiba-tiba aku akan menikah? Aku menikah dengan siapa? Teriakku panik. Aku celingak celinguk mencari orang yang bisa kutanyai.

Ibuku masuk. “Rio udah datang, sayang! Upacaranya sebentar lagi!”

Rio. Apakah aku mengenalnya? Uuhmm tentu saja! Dia pacarku selama delapan bulan ini. Tapi, secepat itukah aku menikah? Tanpa dapat kubendung, air mata mengalir, melunturkan maskaraku, menghitamkan kelopak mataku. Aku menangis tersedu-sedu.

“Aku nggak mau menikah, Ma! Kenapa aku ada disini? Kenapa aku menikah sekarang?” tanyaku tak mengerti. Sepertinya aku kehilangan waktu. Jika sekarang aku akan menikah, mengapa aku tak tahu prosesnya?

“Ma…aku nggak mau pergi, aku nggak mau menikah…!” isakku. Ibu memelukku, menenangkan. Membujukku agar mau meneruskan upacara ini. Suara gamelan sayup-sayup terdengar dari ruangan lain. “Mama, aku nggak mau menikah!” tangisku pilu.

Aaaaaaarrrgh!

Aku bangun bermandi keringat. Terengah-engah. Pukul dua malam. Mimpi buruk itu harus enyah. Dua minggu ini hampir semua malamku dihiasi dengan mimpi menikahi Rio. Tidurku tidak nyenyak, wajahku dihiasi kantung mata. Tidak, aku tak mau menikah sekarang. Aku belum siap. Aku baru dua puluh. Aku belum lulus kuliah. Aku belum pernah ngerasain kerja. Aku masih terlalu muda! Aku bahkan baru mengenal Rio selama delapan bulan. Aku belum siap memasuki gerbang abu-abu itu, aku tak tahu apa yang ada didalamnya; kumpulan monster pemangsa hati, ataukah cinta tiada henti? Aku tidak tahu.

Aku tak berani meneruskan tidurku, aku takut mimpi itu secara independen akan melanjutkan ceritanya hingga upacara akad nikah, dimana aku tak dapat lagi menyesal; aku telah menjadi istri. Aku takkan bisa pergi.

Krrrriiiiinnnnngg.

Tanganku menggapai-gapai ke bawah bantal mencari handphoneku. Tak kutemukan. Mataku masih terkatup. Tanganku mencari-cari ke bawah kasur, ke karpet.

“Halo!” jawabku dengan suara parau bangun tidur.

“Halo Sleeping Beauty…masih bobo?”

“Hmmm!” Rio menelepon. Jam dua pagi? Menanyakan aku masih bobo?

“Bangun…udah jam enam! Kuliah jam tujuh, kan?”

“Errhg?” kesadaranku belum kembali. Kuliah jam tujuh? Iya emang, tapi kan masih lama…

“Hei, bangun! Kamu mau aku bangunin kamu langsung kesana?”

“Hmmm…dadah!” kataku langsung menutup teleponnya. Kupaksa membuka mata, melihat penunjuk waktu dihpku. Benar jam enam. Kini kupaksa tubuhku bangun, lalu berjalan terhuyung tergesa ke kamar mandi. Cuci muka, gosok gigi.

Hpku berbunyi lagi.

“Honey…kok ditutup sih telfonnya?” suara itu mendahuluiku bicara.

“Aku lagi di kamar mandi.”

“Ntar jadi ya ke Chilista! Aku jemput kamu ke kampus abis kuliah!”

“Ngg…Chilista, ya?”

“Kenapa?”

“Ngg…kayaknya aku, ngg…Rio, maaf ya…kayaknya aku nggak bisa!”

“Loh, kenapa? Kapan lagi kita bisa ngedate, coba? Aku kan ga bisa tiap hari ke Bandung! Emang kamu nggak kangen sama aku?”

Hhh Rio. Andai kamu mengerti ketakutanku. Aku seneng kamu dateng ke Bandung minggu ini. Sulit sekali bertemu denganmu. Tapi, aku tak yakin kalau aku merindukanmu karena aku mencintaimu, bukan hanya karena kesepian.

“Aku kangen, lagian kamu kan bisa ke kosan aku! Ga usah makan di Chilista. Kamu bawain pizza aja, ya!”

“Bukannya kita udah ngerencanain ini? Kok kamu tiba-tiba ngebatalin sih?”

“Aku…aku nggak enak badan! Maafin aku, ya!”kataku dengan alasan yang pertamakali terlintas di kepalaku.

“Ya udah…pizzanya mau rasa apa? Ntar aku langsung ke kosan kamu!”

***

“Kita putus aja, ya!” bisikku sangat pelan, seakan tak ingin seorang pun mendengarnya. Tapi Rio mendengarnya. Ia langsung menghentikan game yang dimainkannya dan melemparkan ponselnya ke tempat tidur. Ia membalikkan tubuhku menghadapnya. “Kamu ngomong apa sih, Ka?”

“Kita putus aja!”

“Apa? Putus? Why? I thought we’re okay!”

“Jakarta terlalu jauh untukku!” kubuat pembenaran yang paling masuk akal untuk keputusan itu, padahal Jakarta sama sekali tak berhubungan dengan keinginanku. Malah sebaliknya, satu-satunya alasanku meminta putus adalah bahwa aku tak mau terlibat secara emosi lebih dekat lagi dengannya. Aku takut ia kan memintaku menikah dengannya. Usianya sudah mencukupi, cukup mapan, dan kelihatannya ingin sekali segera menikah.

“Selama delapan bulan kita baik-baik saja pacaran jarak jauh! Kenapa tiba-tiba kamu bilang Jakarta terlalu jauh untukmu?”

“Kita tidak baik-baik saja!” teriakku. ”Delapan bulan denganmu, kau bahkan tidak datang menengokku ketika aku sakit! Jadi, kita putus aja! Di Jakarta mungkin kamu akan nemuin yang lebih baik dariku…!”

“Kamu jangan childish gitu, Ka! Kamu tau aku berusaha untuk datang, tapi aku tak bisa! Dan kamu jangan pernah ngomong soal nyari pacar lagi! Aku sayang kamu, Ka!” Rio mencoba mengendalikan dirinya.

“Please…!”lirihku. Rio tak bicara lagi. Dengan sisa kesabaran yang dimilikinya, ia mengemasi barang-barangnya tanpa suara, pergi tanpa pamit.

***

Sebulan setelah Rio pergi. Mimpi itu tak pernah datang lagi. Syukurlah… aku sudah sangat ketakutan. Sampai sebuah SMS dari Rio, yang membuat rasa takutku, kekhawatiran tak beralasanku, mimpi burukku, menjadi nyata. Senyata ponsel yang kugenggam, yang menampilkan huruf-huruf yang membentuk kata dari hati Rio.

1-18

6 Jan 2005

21:05

rio

kania,pls..i cant

stop thinkin of u.

wud u marry me?

Would I marry you? Would I?

***

Kebaya putih kini yang menempel ketat ditubuhku. Aku duduk di pelaminan. Di sebelahku Rio. Tampak menawan. Hmmm…suamiku. Tamu-tamu tak henti berdatangan. Kami saling melemparkan senyuman menggoda. Tak tahan ingin segera malam.

“Hei…!” goda Rio. “My wife!” Aku tersenyum tersipu.

Suami Istri. Tampak sangat nyata.

Tapi hei…kenapa aku kehilangan orientasi waktu lagi? Kapan akad nikahnya? Kapan aku menandatangani buku nikah? Kapan? Mengapa aku tak ingat bahwa pernah terjadi akad nikah antara Aryo Herlambang dan Kania Pamungkas?

Dengan kebaya dan kain yang melilitku, aku berlari susah payah. Tidak, aku belum menikah! Tapi aku sudah menikah! Lihat saja tamu-tamu yang datang. Lagipula aku duduk di kursi pelaminan. Memangnya siapa yang akan berani duduk disitu?

Rio mengejarku. Kedua keluarga panik, tamu-tamu gempar. Mungkin menyangka pengantinnya sudah tak sabar. Aku tak dapat lagi menahan tangis. Mengapa ini terjadi padaku?

Rio menangkapku. Aku menunduk ketakutan dengan air mata bercucuran deras. Ia mencengkram lenganku hingga di balik kebaya transparanku, kulitku memerah bertanda jemarinya.

“What is the hell are u doing, Ka? You’re my wife now, for god’s sake! Kamu mau kemana lari-lari kayak gitu?” wajahnya ungu. Ia menahan diri untuk tidak menamparku.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Gemetar. Sepertiga karena takut, sepertiga karena marah, sepertiganya lagi karena perutku kosong. “Nggak…aku nggak mau menikah! Aku nggak mau menikah sekarang!” Aku mengulang-ulang kalimat tersebut seperti kaset rekaman, seakan tanpa kesadaran.

“Tapi kamu sudah menikah!” suara Rio tajam, bercampur amarah yang kental. Ia menyeretku ke pelataran parkir, membawaku ke mobilnya. Melarikanku entah kemana.

Lagi, aku terbangun bermandi keringat.

Tidak, tegasku.  Aku belum menikah. Itu hanya mimpi. Mimpi burukku. Aku tak perlu takut. Mimpi itu hanya bunga tidur, tak ada yang perlu ditakutkan.

“Ka…kamu kenapa?” pemilik suara itu tanpa ijin memelukku. Menyusupkanku ke dadanya. “It’s okay,Honey! It’s justa nightmare! It’s okay…!” ia membelai rambutku menenangkan, tapi aku makin tak tenang, jantungku berdentam memukul-mukul hingga sesak dadaku.

Aku menengadah melihat wajah pemilik suara, meyakinkan pendengaran dan memoriku. Benar. Itu Rio. Menatapku penuh rasa menguasai.

Aku menangis tanpa suara, tanpa air mata.

Aku tak ingin menikah…

Majalah SPICE!, 2005

6:56 PM | Posted in , | Read More »

Kupu-kupu

Musim gugur di Kanada. Jutaan kupu-kupu Monarch terbang sejauh 3200 kilometer untuk menghangatkan diri dari musim dingin yang membekukan. Autumnunal equinox. Panjang Siang dan malam yang simetris. Jutaan kupu-kupu Monarch mengepakkan sayap suteranya selama dua bulan menuju hutan-hutan hangat di Selatan dan tidur panjang diantara pepohonan.

Musim hujan di Indonesia, tapi curah hujan belum tinggi. Pohon-pohon mangga mulai berbuah. Beberapa telah dipetik hasilnya. Kau harus membawa payung jika bepergian, kecuali jika kau rela basah kuyup. Kupu-kupu warna warni beterbangan, tapi tidak di dekat rumahmu. Tak ada bunga-bunga disana. Kau tahu kan kupu-kupu memakan sari bunga? Jadi mereka takkan bisa hidup jika tak ada bunga.

Kupu-kupu di hutan selatan terbangun dari tidur empat bulan mereka. Berpesta pora. Musim semi telah tiba. Bunga-bunga cantik dan manis bermekaran. Jutaan kupu-kupu Monarch menghisap nektar berkah musim semi, kemudian beramai-ramai melakukan perkawinan, sebelum kembali ke Utara.

Kupu-kupu tropis di Indonesia tidak melakukan perjalanan. Tak ada salju yang akan membekukan sayap dan tubuh mereka disini. Jika hujan, mereka akan berlindung di pepohonan. Jika hujan, kau berlindung dimana?

Spring equinox. Siang malam yang simetris di musim semi. Koloni kupu-kupu Monarch terbang kembali ke Utara. Kembali untuk mati. Keturunan mereka yang akan meneruskan tradisi ini nanti. Sebelum mati, para Ibu dan Ayah anak-anak Monarch mungkin bercerita jalur-jalur perjalanan mereka menuju hutan selatan. Mereka selalu memulai perjalanan mereka pada autumnunal equinox dan kembali pada spring equinox.

Ayah Ibu mereka membekali mereka ilmu navigasi yang baik. Mereka memanfaatkan matahari dan jam circardian tubuhnya untuk mengetahui jalur mana yang harus dilewati dan harus dihindari dalam perjalanan ke Selatan. Begitu berlangsung setiap tahunnya.

Tapi,

Begitu Ia memulai ceritanya. Berbisik seakan tengah menceritakan suatu rahasia.

Tidak tahun ini.

Ia bercerita untukmu. Kau yang entah ada dimana, entah mendengar atau tidak, entah peduli atau tak acuh. Mungkin menganggap ceritanya omong kosong sampah. Ia terus bercerita. Hanya untuk telingamu.

TAPI TIDAK TAHUN INI, katanya.

Kupu-kupu Monarch di Utara tidak bermigrasi ke Meksiko. Mereka terbang ke arah lain. Seketika sistem navigasi Monarch kacau balau. Para ahli serangga gempar. Mereka kemudian menganalisis penyebab perilaku menyimpang dari kupu-kupu spesies ini. Mereka mengambil spesimen untuk dijadikan sampel. Dibedah. Diteliti anatomi tubuhnya. Organ dalamnya. Apa yang salah? Monarch tidak terbang ke Selatan, tetapi terbang ke arah Timur lewat Samudera Pasifik.

Surat kabar, televisi, radio, media massa menyiarkan ke seluruh dunia fenomena musykil ini. Efek rumah kaca disalahkan. Para ilmuwan lainnya mengatakan bahwa telah terjadi perubahan medan magnet bumi hingga arah migrasi kupu-kupu Monarch menyimpang. Aktivis lingkungan mengadakan demo besar-besaran karena dampak pemanasan global ini kelak akan semakin parah dan menimpa manusia. Ahli agama mengatakan bahwa azab Tuhan telah datang dan manusia harus bertobat. Dunia akan kiamat.

Hasil penelitian ahli serangga, Monarch berevolusi, teradiasi nuklir, bermutasi.

Penyair melahirkan beribu puisi.

Klinik paranormal dipenuhi orang-orang mengantri mencari jodoh, meski tak ditemukan relevansi antara pelencengan migrasi kupu-kupu dengan mencari jodoh.

Novel-novel tentang kupu-kupu membanjir dan laku di pasaran.

Paris, New York, Jakarta, Tokyo, Melbourne, London, Amsterdam, Bandung, Sydney, Roma, para pelukis mengadakan pameran bertema kupu-kupu. Para perancang busana pun mengambil tema kupu-kupu dalam setiap Pagelaran Busana karya mereka.

Fenomena ini menjadi ajang eksploitasi sumber daya pikir. Setiap sudut di dunia dipenuhi pernak-pernik kupu-kupu hingga sejauh mata memandang yang kau lihat adalah segala ornamen yang berhubungan dengan kupu-kupu. Tapi, apakah kau peduli?

Tak ada yang tahu mengapa jutaan Monarch melenceng dari jalur imigrasinya. Tak ada yang tahu kapan mereka berhenti, tak ada yang tahu dimana mereka akan berhenti. Kaupun tak tahu, bahkan lebih cenderung tak peduli meski ikut merasakan imbas dari kejadian ini. Biarkan saja, katamu. Memangnya kenapa kalau aku tahu akan kemana mereka dan kapan mereka berhenti.

Ia menghela napas. Menghimpun tenaga untuk kembali bercerita. Bercerita khusus untuk telingamu. Ini sungguh-sungguh! Meski bagimu ini tak ada hubungannya denganmu, dan tak ada perlunya jika ia menceritakan ini padamu, tapi kelak kau akan tahu bahwa sesuatu dalam cerita ini mungkin akan menolongmu.

Ia menghela napas, kemudian membuangnya. Kali ini untuk meyakinkan dirinya sendiri untuk terus bercerita, meski lidahnya mulai kebas. Ia melihat silam waktu, membaca alasan-alasan mengapa ia harus terus menceritakan kupu-kupu Monarch yang bermigrasi ke titik entah. Padahal kan, kau belum tentu menyimak.

Semua karena cinta, tentu saja! Bukankah kekuatan cinta dapat mengalahkan segalanya? Begitu yang orang-orang bilang. Aku sih tidak percaya, tapi ia percaya kekuatan cinta. Asalkan itu untukmu, tak ada gunung tinggi tak mampu ia daki, tak ada samudera luas tak dapat diseberangi. Kau adalah pusat kekuatannya! Kau dapat mengalahkan rasionalitas terakhir yang dimilikinya. Kau adalah alasan berjuta puisi mengalir lewat pensilnya, atau jempolnya, atau tuts keyboardnya. Oleh karenamu ia menciptakan perbendaharaan kata baru yang menggambarkan perih luka sakit sangat. Kaulah inspirasi kegilaannya.

Jadi alasan apa yang membuatnya berhenti bercerita kepadamu?

BEBERAPA bulan kemudian.

Angin di atas Samudera Pasifik berhembus makin dingin. Jutaan kupu-kupu  Monarch setia mengepakkan sayapnya yang rapuh. Tidak, sekarang bukan hanya kupu-kupu Monarch yang bermigrasi. Belakangan diketahui kupu-kupu spesies lain pun bergabung dengan Monarch dalam perjalanan ini. Kupu-kupu di semua tempat yang disinggahi Monarch ikut terbang menuju entah.

Kupu-kupu bersayap satin stilpnotia Salicis, kupu-kupu perak, kupu-kupu berpigmen pteridine yang berwarna-warni. Kupu-kupu hitam berbintik putih, biru, coklat, besar, kecil. Kupu-kupu berbagai bentuk, berbagai warna, berbagai corak, berbagai ukuran terbang mengikuti Monarch ke tempat yang belum diketahui siapapun, dengan motif yang tidak diketahui siapapun.

Berbulan berlalu. Ratusan kupu-kupu berjatuhan dari atas langit karena kelelahan, kelaparan, diterjang badai ataupun angin puting beliung. Tetapi,  alih-alih berkurang, jumlah kupu-kupu malah semakin banyak. Semakin lama, semakin jauh jarak telah tertempuh, jumlah mereka bertambah. Setiap daerah yang terlewati menggelap karena sinar mentari terhalangi puluhan juta serangga bersayap indah yang terbang ke Timur.

Kupu-kupu yang tak pernah menyerah.

Seperti ia yang keras hati. Memilih tetap menjadi keledai dungu yang tertumbuk cinta yang sama lagi dan lagi seperti beras tertimpa alu berkali-kali hingga menjadi tepung. Ia tak pernah menyerah bercerita khusus untuk telingamu hingga kelak usai. Kau harus menyimaknya hingga tuntas jika kau ingin mengerti apa maksud dari ceritanya yang tak masuk akal itu. Tapi, apakah kau bersedia meminjamkan telingamu untuk mendengarkan?

SETAHUN KEMUDIAN

Kupu-kupu masih terbang berkelana. Orang-orang sudah jemu memperhatikan kupu-kupu yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Mereka telah kembali pada aktivitas mereka sehari-hari. Ibu-ibu dengan infotainment gosip dan arisan-arisan mereka, mahasiswa dan pelajar dengan kertas-kertas contekan untuk ujian, pejabat-pejabat dengan strategi terbaru untuk menghisap uang sebanyak-banyaknya seperti trenggiling menghisap semut. Tetapi ia masih setia bercerita.

Ceritanya mengalir bersamaan dengan ditulisnya mantera-mantera cinta yang dirapalkan dalam lukisan pentagram di lantai. Keping-keping kelopak mawar bertebaran. Asap dupa membubung menuju langit, menghilang dilahap atap. Sebuah buku besar dan tebal terbuka diatas lukisan pentagram itu. Aroma Lemon Balm dan Chamomile pekat memenuhi ruangan  itu. Minyak Lemon Balm yang dipanaskan dipercaya dapat menyembuhkan luka, menenangkan hati yang depresi, dan meredakan kemarahan. Chamomile untuk mimpi, meditasi, kedamaian, mendinginkan amarah. Bercerita sepanjang tahun membuatnya lelah.

Kupu-kupu melewati Selat Taiwan, Pulau Luzon, Laut Cina Selatan, Pulau Borneo, menyebrangi sungai Kapuas, Laut Jawa, terus ke Selatan hingga negeri Prabu Siliwangi.

HARI KE 378.

Kau membuka jendela kamarmu. Sinar matahari menyerbu memasuki ruangan yang tidak begitu luas itu. Angin membawa aroma pagi. Seekor kupu-kupu kecil masuk kamarmu tanpa diundang. Warnamya merahmuda campur biru. Tatkala kau takjub mengagumi keindahannya, kamarmu menggelap. Sesuatu menghalangi cahaya bintang terdekat dengan bumi. Kau memandang keluar menembus bingkai jendela.

Puluhan juta kupu-kupu berhenti di depan jendela kamarmu. Kupu-kupu berhenti terbang. Perjalanannya berakhir disini! Sementara kau terkesima melihat pemandangan langka itu, suara helikopter menderu-deru. Di bawahnya, puluhan mobil wartawan baru tiba untuk meliput kejadian itu. Kotamu yang tak pernah macet kini lumpuh total. Semua orang datang kesana karena ingin tahu daerah seperti apa yang membuat migrasi jutaan kupu-kupu terhenti.

Pelahan, jutaan kupu-kupu itu bergerak membentuk sebuah formasi. Helikopter wartawan merekam semua aktivitas tersebut. Kupu-kupu terpisah menjadi sembilan kelompok.

Kelompok ketiga, membentuk huruf D.

Kelompok kedua, huruf U,

Kelompok Keempat,

Pertama,

Ketujuh, B

Kesembilan,  R

Kedelapan,

Keenam, U

Kelima.

Sembilan kelompok kupu-kupu yang bermigrasi dari Amerika Utara pagi ini berhenti disini. Setelah 378 hari, di depan jendela kamarmu jutaaan kupu-kupu itu merangkaikan sembilan huruf.

Melukis langit dengan namamu.

Namamu.

Ya, namamu! (Jika kau masih belum yakin juga dengan matamu yang minus satu dan minus ¾.)

Jutaan kupu-kupu bersayap pelangi melukis langit dengan namamu. Kau takjub. Tak pernah membayangkan akan melihat langsung kejadian seperti ini, apalagi dengan namamu yang diterakan diatas langit. Kau mengosok-gosok matamu, kemudian mencubit lenganmu keras-keras. Berkas keunguan langsung membayang dilenganmu. Mimpi ini benar-benar seakan nyata. Ataukah ini memang bukan khayal? Kau bingung. Sempat merasa kau telah gila. Kau tak percaya kupu-kupu yang jadi bahan berita itu datang padamu. Menulis namamu dilangit.

Tiba-tiba saklar di kepalamu menyala. Seharusnya ada yang bisa menjelaskan hal ini padanya. Siapa? Kau harus pergi pada siapa? Secepat kilat, kau menyambar jaketmu, keluar kamar, menuruni anak tangga dua dua, lari melewati puluhan wartawan dengan mikrofon, kamera dan recorder yang mengejar-ngejarmu untuk diwawancarai.

Kau berlari seperti dikejar setan. Berteriak-teriak seperti orang gila. Menyebut-nyebut namanya. Ia, dimana kamu? Teriakmu mencarinya. Ayo keluar!

Ia duduk disitu bercerita. Matanya terpejam, kemudian membuka pelan seperti kuncup mawar yang mulai mekar. Tubuhnya diselimuti cahaya. Senyumnya merekah begitu melihatmu tiba. Inginnya berlari menyambut dan meraihmu, tapi kau lihat kakinya tak ada. Tempatnya digantikan oleh percikan cahaya putih yang bersinar seperti kembang api. Kau menatap matanya tajam, menuntut penjelasan. Ia membalas tatapanmu dengan sorot penuh bahagia. Senyumnya terlalu manis hingga kau bisa merasakan manisnya mengalir di kerongkonganmu. Bukan itu yang kau inginkan.

Sebentar lagi ceritanya selesai. Kau tinggal menunggu. Kau tak perlu menuntut penjelasan karena ia bercerita khusus untuk telingamu. Hanya kau yang akan tahu akhir ceritanya. Dan kau akan tahu mengapa.

Kembang api itu terus membakar hingga ketubuhnya, terus menjalar ke lehernya. Kau ingin berteriak, ada juga keinginan untuk menyelamatkannya di saat-saat terakhir sebelum tubuhnya lenyap menjadi kembang api (bukan karena kau peduli pada keberadaannya, tapi ia berutang penjelasan padamu. Padahal jika kau dengarkan ceritanya, mungkin kau akan lebih mudah mengerti). Tetapi kau malah diam terpaku, dengan kaki terpasak di lantai, menatapnya menghilang. Kau ingin menangis meskipun kau tidak sedih. Lagipula laki-laki tidak menangis, pikirmu.

Kembang api masih berpijar. Putih berpendar. Kau kira ia menghilang untuk selamanya, meletup menjadi udara. Plop, seperti suara tutup pasta gigi. Tapi ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu putih yang terbang keluar. Kau mengikutinya. Kupu-kupu putih bergabung dengan kawan-kawannya. Ia memilih bergabung diantara titik diatas huruf ke empat. Terseok-seok kau berlari mengikutinya, dengan keringat bercucuran. Kau terambat. Jutaan kupu-kupu itu telah luruh ketika kau tiba, bangkainya menyelimuti jalanan aspal di depan rumahmu. Tak seekorpun tertinggal di atas langit. Pertanyaanmu bisu tak terjawab.

Jakarta, 040405

Majalah Pakansi, 2005

6:52 PM | Posted in , | Read More »

Fla Je t’ Aime



Ada mata yang memandangku dari pojok kelas. Mata bulat milik Fe. Mata milik cowok yang paling nyebelin, judes, sok pinter, ect.
“Fla…!” aku dikejutkan oleh suara yang sangat kukenal. Suara yang selalu terdengar kalau ada guru yang nanya. Suara sendu milik Fe.
“Iya?”
“Agenda belum diisi!”
Uh… dan cowok ini makin sok aja setelah mengalahkan Geryn dalam pemilihan ketua kelas. Makin kuasa. Aku mengangguk pura-pura tulus. Padahal… basa basi! AKu bergegas ke meja guru dan mengisi agenda kelas.
“Fla…!” teriak Fe lagi. Ada apa sih? Rese amat sih.
“Iya Fe?”
“Ini…. Sosiologi nyatet lagi. Bu Irennya mau arisan dulu sama ibu-ibu Dharma Wanita!”
“Arisan?!?” keluhku.
“Selesaikan dari halaman 15-20. Kamu rangkum  aja biar kita cepet istirahat!”
Diktator! Rutukku dalam hati.
“Udah deh… jangan merintah-merintah kayak gitu! Aku bukan budakmu, tau!” kataku sambil merebut buku Sosiologi dari tangan Fe yang lalu mencekal tanganku.
“Mau apa?” tantangku sambil memandang sinis ke mata coklatnya. Fe melepaskan cekalannya dari lenganku dan pergi.
Duh… rugi juga jadi sekretaris kelas. Tiap hari disuruh nulisssss terus. Mana nggak digaji lagi. Si Fe juga, kenapa nyalonin aku jadi sekretaris? Trus anak-anak malah milih aku. Tanpa merasakan pengorbanan seorang sekretaris yang bertanggungjawab.
“Flaaa…!” Teriak Mayang cuek.”Nulisnya jangan kecepetan! Nyantei aja ya… dan jangan banyak-banyak!”
“Kalo mau protes, tus sama Fe aja! Aku kan cuman pelaksana aja!”
“Protes? Sama Fe? Palingan dicuekin! Mending protes sama kamu aja, Fla!”
Amarahku tercekat di tenggorokan. Uh… pengen rasanya ninggalin kelas skarang juga. Tapi kasian kan anak-anak yang nyatet.
***
Senin.
Hari mendung sekali. Mungkin pertanda buruk. Tapi anak-anak udah siap berjejer di lapangan. Riuh sekali, dan dari tiap kelas terdengar cerita-cerita sisa malam minggu. Serial Sinbad, Sabrina The Teenage Witch, The New Adventure of Lois and Clark, diapelin, dll. Meski upacaranya udah dimulai, tapi nggak ada kekhidmatan sama sekali. Dimulai dari petugas upacara kelas satu yang nggak berkualitas; bendera kebalik, pemimpin upacara yang sakit tenggorokan, sampai obade yang masih kedinginan jadi suaranya nggak keluar. Di depan barisan kelas 2-3, Fe berdiri dengan gagah. Emang Superman? Hah… gagah? Nggak sama sekali!
“Pengumuman-pengumuman!” kata protokol nggak lantang. Kalo udah acara pengumuman-pengumuman, pasti upacara bendera sebentar lagi berakhir. Pak kepala bagian kesiswaan telah berdiri di podium menyampaikan pengumumannya.
“Anak-anak, mulai bulan ini SPP dihapus, jadi bulan ini iurannya dikurangi… bla bla bla…!” Walaupun informasi ini telah diketahui sebagian besar siswa, tapi tak urung kami semua bertepuk tangan dengan girang.
“Dan…!” sambung Pak Guru. Dia berhenti sejenak untuk menciptakan efek dramatis. “Mulai bulan depan… karena kedatangan SMU Karangpawitan yang belum memiliki gedung sendiri…!” Pak Guru diam lagi. Tetapi kali ini disertai koor 360 orang siswa kelas dua yang tak senang mendengar berita selanjutnya.
Menurut issue yang beredar dalam seminggu terakhir, kelas dua akan mulai sekolah siang karena ada sekolahan baru yang blom punya gedung itu. Kami benci kalau itu terjadi. Sekolah siang itu benar-benar menyebalkan.
“Karena itu, semua murid kelas dua akan sekolah siang mulai bulan depan!”
Dengungan kecewa itu semakin kentara terdengar. Ucapan Pak Seno selanjutnya tertelan suara jeritan yang membahana memenuhi lapangan pagi itu.
“Fe! Pimpin kami demo!” teriakku.
“Kita mogok belajar!!” Via yang ekstrimis.
“Ayo kita bikin petisi! Surat tanda nggak setuju! Tandatanganin sama semua siswa kelas dua!” teriak Lily menggebu-gebu. Sementara Innyta memenangkan Aliya, si sensitif, yang menangis tersedu-sedu.
Sebagai KM, Fe hanya diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Anak-anak cowok yan pada cuek udah pada kembali ke kelas, ngerjain peer Matematika yang malas mereka kerjakan di rumah.
“Fla… udah nggak ada gunanya kita bediri disini! Mereka bakalan cuekin kita, dan hari makin panas! Kita rugi sendiri, mending pilih jalur legal aja!” kata Lily sambil menyeretku berjalan ke kelas.
“Kesalahan kita satu! Dari dulu kita nggak pernah kompak dalam hal-hal kayak gini. Ini keputusan sepihak, harusnya kita dilibatkan kalo mau disuruh sekolah siang! LAgian kenapa nggak mereka aja sih yang sekolah siang! Kan mereka yang numpang di sekolahan kita! Taon lalu, kita emang sekolah siang gara-gara ngebangun kelas belakang, tapi kenapa mesti angkata kita lagi sih yang sekolah siang? Sekolah siang itu cape tau nggak sih… mana panas lagi! Kitanya nggak fresh, bawaannya ngantuk!” gerutuku panjang lebar, menolak diseret Lily.
“Ya udah Fla… kita bubar aja sekarang!” kata Fe menengahi, tapi tak mampu menenangkan emosiku. Malah, bikin aku makin sebel.
Masalah makin ruwet waktu Innyta lapor kalo Sisi ilang. Kamu sibuk nyari, di WC, kantin, BP, ruang UKS, ruangan piket, kemana-mana, eh… taunya Sisi ketemu lagi ngerumpi di kelas laen. Hue… tadinya aku mau jadikan ilangnya Sisi gara-gara mau sekolah siang. Ternyata….
“Fla!” seru Anya.
“Ada apa?”
“Ferrin manggil kamu tuh!”
“Dasar besi! Dia aja yang kesini, dia kan yang butuh?” sahutku judes.
“Ferin di BP!”
“Hah? Ngapain?”
“Tadi dia pergi sendirian ke kantor kepala sekolah, protes soal sekolah siang itu, sekarang dia lagi disidang di BP!” jawab Anya. Aku jadi pengen ketawa. Bego. Bolot. Stupid. Ngapain jalan sendirian? Dia kan punya anak buah yang siap ngedukung dia buat memprotes rencana sekolah siang itu!
“Katanya Ferrin takut kamu nggak mau diajak kerjasama! Kamu kan emosional gitu. Trus dia kasian kalo kamu kena getahnya juga!”
“Heh? Napa harus kasian?”
“Kamu datang aja deh ke sana! Lagian dikasih tau kok malah marah-marah si Fla?” kata Anya kesal.
Dengan malas kuseret kakiku ke ruang BP. Ah Fe… ngapain marah-marah sendirian. Klo misalnya kita harus diskors gara-gara protes, ya diskorslah kita bareng-bareng!
“Assalamualaikum!” kataku begitu masuk ruang BP.
“Hei Fla… masuk sini!” katanya girang.
“Ngapain kamu di sini?” tanyaku dingin.
“Emang Anya blom ngasih tau, ya? Kita kan mau demo!” ujarnya girang. Hah… gila. Aku meraba kening Fe yang sama sekali nggak panas.
“Panas!” ujarku bohong.” Harusnya kamu ke ruang UKS aja… kamu demam yah? Lagian, mau konsul sama meja?” tanyaku setelah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak ada siapa-siapa di tempat itu kecuali aku dan Fe.
Brug.
Ups.
Raksasa yah?
Ternyata hanya langkah Bu Fatty yang lagi pegang pizza.
“Sori ya! Kelamaan, di kantor tadi ada pesta menyambut kemenangan kepsek. Ya, ada masalah apa?”
“Bu! Kamu nggak setuju kalo kelas 2 sekolah siang! Taon kemaren kan udah bu… kita yang sekolah siang! Masa sekarang angkatan kami lagi yang sekolah siang? Cape kan bu! Udah haus terus…produksi keringat berlebihan, kita kan ABG…. kalo siang makin parah ntar bau badannya! Trus ngantuk terus..nggak fresh!”
“Oh… kalo ngantuk ya bawa bantal aja, trus tidur!” ujar bu Fatty terkekeh-kekeh, solah-olah abis mengatakan sesuatu yang lucu.
“Ibuuu… kami serius! Pokonya kami ingin mengajukan tuntutan! Kami nggak mau sekolah siang, kelas satu aja bu yang sekolah siang!”
Bu Fatty tersenyum arif, sikap nyebelin nan nyinyirnya detik lalu hilang seketika.
“Jadi kalian pikir kelas satu nggak akan mengeluh dan pasrah begitu saja?”
“Tapi Bu, kami kan…!” protesku sambil gemas pada Fe yang dari tadi diem aja nggak melakukan apapun.
“Pak Kepsek bilang, tuntutan kalian akan dipertimbangkan. Kalian tenang aja, kami akan memutuskan yang seadil-adilnya buat semua pihak. Sekarang kalian kembali ke kelas ya? Pelajaran siapa sekarang?” Ujar Bu Fatty menutup kasus. Uuuh… nggak puas ah!
***
“Kalian pacaran yah?” Tanya Anya tiba-tiba.
“Siapa?” kataku acuh tak acuh.
“Kamu… sama Ferrin!”
Huahahahaha… aku tertawa sampai tersedu.
“Dapet gossip dari mana? Nggak mungkin laaaah!”
“Kata si Geryn tuh!” katanya. Sudut matanya menunjuk Geryn yang duduk di baris ketiga. Oh no! What a nightmare! Masa Geryn, ngegosipin aku sama Fe? Geryn… sebagai kecengan abadiku sejak SMP? How come???
“Fla… kamu hebat deh! Aku salut! Ferin yang anti cewek gitu bisa terpikat sama kamu. Malah, sekarang dia udah ga judes lagi sama anak-anak cewek!”
Aku geleng kepala. “Terserah deh! Buatku si Fe itu masih senyebelin dulu!” kataku sambil pergi dari Anya.
“Fla!” teriak Gery. Deg degan nih.
“Kamu ada acara nggak ntar malem?”
“Nggak… mo ngerjain peer dan nonton Layar Emas… ada mas Keanu! Hihihi!”
“Boleh kuganggu acaramu itu? Ngerjain peer besok pagi aja!” bujuknya.
“Emang ada apa?”
“Aku punya undangan sweetseventeennya Winda, aku mau ngajak kamu!”
“Oh ya? Kalo kamu mau minta izin sama ortuku ngajak pergi malem-malem, ya… aku ikut… asal diizinin sama mereka!” ujarku diplomatis.
“Ya deh… kalo gitu ntar pulang bareng! Aku anterin kamu!”
Aku senyum hepi. Setengah nggak percaya. Akhirnya Geryn….
“Buat manas-manasin Fe juga!” bisiknya.
Ha? Ngapain manasin Fe? Apa urusannya? Tapi… boleh juga deng!
“Mmmm Fla….!” Kelakuan Geryn sumpah… ANEH BANGET. Waktu dia bilang gitu, dia menatapku tajam. “Je’t Aime…!” What? Kali ini dia bikin keseimbanganku terganggu. Hampir saja aku jatuh mendengar ucapan cinta dalam bahasa Prancis itu.
“A..a..apa?” tanyaku terbata, meyakinkan pendengaranku.
“Je’t Aime itu salam perpisahan di Prancis!”
“Oh…!” ucapku bego.
Anak SMP juga tau Je’t Aime artinya apaan!
***
Peristiwa itu hanya awal dai pendekatan Geryn, yang bikin Fe, entah kenapa uring-uringan terus. Mungkin dia emang bener-bener suka sama aku, ehm. Dan sejak saat itu, aku juga jadi sering ke rumahnya Geryn, makin deket sama ibunya yang baik hati dan jagoan bikin cake.
“Fla… boleh ngomong bentar?”
“Eh… Fe….!” Kataku speechless.
“Aku…!”
“Ya?”
“Aku… cemburu!”
“He?”
“Sama kamu dan Geryn! Kayaknya aku jatuh cinta deh sama kamu!”
Aku sukses terbengong-bengong bloon. Fe? Jatuh cinta sama aku? Bumi muter ke arah berlawanan yah? Tak ada yang bisa kukatakan. Aku nggak cinta sama Fe. Lama aku terdiam, membiarkannya berharap menunggu sesuatu keluar dari mulutku.
“Fe… aku…!”
“Nggak apa-apa kok kalo kamu nggak bisa jawab sekarang! LAgian aku nggak minta kamu jadi pacarku kok! Aku cuma mau bilang itu aja… aku… pergi… yah!”
“Fe… maafin aku Fe…!”
Cowok itu berlalu, meninggalkanku kebingungan. Gundah gulana.
***
“Fla…!”sapa Geryn ketika kami ketemu di kantin.
“Hey, abis dari mana Ger?”
“Nyariin kamu!”
“Ada apa?”
“Pengen cerita!”
“Cerita apaan?”
“Aku… balik lagi sama Winda!” ujarnya sambil menyeringai senang. Tapi efeknya padaku, langsung mual-mual. Tempe mendoan yang tadi masuk perutku langsung meronta penegn keluar lagi.
“Oh… ya?” suaraku tercekat di tenggorokan. Bagaimana pun, itu menyakitkan. Sangat. Dan Geryn mengatakannya seolah tanpa beban. Bagaimana dengan je’t aime yang kamu katakan dulu? Dan sikap manismu selama ini? Apakah kamu cuma nganggap aku temen biasa?
“Woi… kamu kenapa? Kok diem?”
“Nggak kenapa-napa!” dustaku. “Selamat yah!”
“Kamu nggak marah kaaaan?” godanya.
“Marah kenapa… aku kan bukan siapa-siapamu?” gumamku.
“Yah… kamu kan, jadi ga ada partner manas-manasin Fe lagi!” ujarnya lucu. Aku nyengir nggak minat. Perih bo!!!
“Eh, pinjem peer kimianya dong! Susah banget soal yang nomer tiga. Udah diotak atik gimana pun hasilnya masih nggak masuk akal!”
“Bukunya di kelas kali!”
“Ya udah… tar minjem yah!”
“Iya…!” jawabku ogah-ogahan.
“Makasih yaaaa!” tangannya mengacak-acak rambutku.
Pulang sekolah,
Sampai kamar,
Air mataku tumpah ruah di bantal.
Siaaaaallllll.
***
Malam minggu. 15.30. Telepon rumah berdering.
“Gi ngapain Fla?” tanyanya setelah aku mengucapkan halo. Geryn.
“Ke rumahku yuk… Mamaku bikin black forest tuh!”
“Ajakin Winda aja!” kataku males-malesan.
“Males ah… Winda suka garing! Lagian kan dia takut gendut dan jerawatan… mana mau makan black forest!
Aku menyerah. Setelah dua kali naik angkot menuju rumah Geryn, aku sudah berada di depan pintu, menjinjing buah-buahan buat mamanya Geryn.
“Hey Fla!” Mama Geryn membukakan pintu untukku. Wangi kue tersebar I seluruh penjuru rumah. “Geryn di atas tuh! Dah nungguin kamu! Tapi kamu bantuin mama bikin black forest dulu ya!”
“Iya ma… ini buah!”
“Eh… pake repot-repot segala! Yuk langsung ke dapur aja! Geryn mah biarin aja… hehehehe. Nih mama udah siapin celemeknya!”
“Maaaaa… Fla udah datang ya ma?” gelegar Geryn dari kamarnya di lantai dua.
“Ck ck ck…!” Mama Geryn menggelengkan kepala melihat kelakuan anak lelakinya. “Anak itu…Fla…kamu ke atas aja! Geryn udah nungguin kamu tuh dari tadi, bolak baliiik terus naek turun tangga cuma buat nanyain rambutnya aja!”
Lho?
Aku melongo waktu liat kamar Geryn ditata kayak resto mewah. Ada dua candle di tengah meja, sama setangkai kuncup mawar, juga dua mangkuk es krim, duh… ada apa ini? Geryn kok jadi ngedadak aneh? Romantis lagi!
“Kamu gila?” itu kata yang pertamakali kukatakan padanya.
“Iya… abisnya si Winda ngejar-ngejar aku terus, en ngancem mau bunuh siapa aja yang jadi penghalang!”
“Terus?” tanyaku kaget. Geryn kok ngomongnya jadi ga nyambung?
“Nyalain deh lilinnya!”
“Nggak nyambung!”
“Ayo kita makan!”
Sambil makan es krim, mata Geryn tak lepas memandangku. Jadi grogi, tau! Jadi lupa dimana mulut dimana idung.
Ples. Angin meniup nyala lilin. Lalu terdengar suara orang naik tangga.
“Fla… cepetan ngumpet! Nenek sihir datang!”
“Ngumpet di mana?”
“Di mana aja deh!”
“Geryyyyn… aku nunggu kamu, tapi nggak dateng-dateng! Aku bosen di rumah, trus ke sini!”
“Mhhh… sori. Lupa!”
“Ger… kebelet nih!”
“WC-nya di bawah!”
“Di sini juga ada WC kan?”
Ups… aku merinding. Soalnya kan aku ngumpet di WC. Peduli amat… biar Winda menjerit dan marah-marah. Iseng aja kupake seprai putih yang tergantung dan…
“Aaaa…!” Winda menjerit pas buka pintu, tapi nggak pingsan malah bulu kuduku yang berdiri, soalnya jeritan Winda stereo banget.
“Ada apa sih?” Tanya Geryn.
“Ada orang nyoba nakut-nakutin aku pake seprai!”
“Tunggu di sini!”
Ups… kok Winda bisa tau sih siasatku?
“Winda… mana ah? Nggak ada siapa-siapa?” Tanya Geryn inosen.
“Kamu jangan bohong, itu es krim siapa?” Tanya Winda yang neliti meja makan.
“Ya buat kita!”
“Masa udah dimakan? Kamu ngumpetin si Fla ya? Cewek itu… mannaaa”
Takut ketauan, aku keluar dari WC-nya Geryn lewt jendela, trus ngumpet di tembok. Winda ngubek-ngubek WC tapi nggak nemuin seorang Fla-pun di sana.
“Udah ah Win, kamu rese banget jadi cewek! Aku nggak suka cewek rese! Aku suka sama cewek yang nggak suka merintah, ngak ngotot, nggak suka marah-marah kayak kamu…!”
Bruk… suara Geryn terhenti dikejutkan oleh sesuatu yang jatuh. Aku. Sakit bo! Jatuh dari lantei dua luayan juga. Ya amplop… ngapain lagi pake terjun bebas segala. Untung mendarat di kasur yang lagi dijemur mamanya Geryn. Tapi tak urung aku pingsan juga.
Aku menemukan diriku berbaring di kamar, ada poster The Corrs sama B*Witched, kalender Hello Kitty, dinding di cet kuning. Yah… ini kan kamarku. Mimpikah aku tadi? Tapi kok… seluruh badanku terasa ngilu.
Aku tidur lagi, dan ketika membuka mata, ada dua makhluk bernama cowok memandangiku cemas.
“Fla… kamu nggak apa-apa?” tanga mereka kompakan. Geryn, sama Ferrin. Aku menggeleng lemah.
“Eh… kabar baik! Sekolah siang nggak jadi!” kata Fe.
“Kamu tau dari mana? Emang ini hari apa?”
“Hari Senin!” jawab Geryn.
“Jadi aku kemaren tidur seharian penuh?” Aaah… pantas perutku lapar sekali. Kebluk juga.
“Iya!” mereka kompakan mengangguk.
“Kalian kenapa sih? Ngangguk ngangguk. Kayak burung kutilang aja!” Aku mencoba bangun. Aduuuh… sakit ternyata. Buru-buru mereka membantuku bangun. Tapi aku malah bingung liat kelakuan mereka.
“Kalian ngapain sih di sini?” tanyaku sambil melihat jam dinding. Jam setengah delapan. Pagi apa malem? Masa pagi-pagi mereka nggak sekolah. Malem? Ngapain lagi… atau jamnya mati kali ya?
“Aku nunguin kamu bangun. Aku pengen kamu cepet sembuh!” Geryn.
“Aku butuh kamu, Fla! Kamu matahariku! Aku merasakan sakitnya kalau kamu sakit!” Ferrin.
Aku mengucek mata dan telinga. Berharap kalau ini Cuma mimpi. Kok Fe bisa ngomong vulgar en super gombal gini sih?
“Papa ngizinin kalian masuk kamar?”
“Iya…Papa kamu bilang selama tidur kamu manggil-manggil nama Geryn!” ujar Geryn.
“Idih geer!”
“Biarin… akunya juga suka dibawa kamu sampai ke mimpi!”
Fe yang ngerasa jadi kambing congek segera menyelinap ninggalin kami berdua.
“Sori ya Fla… gara-gara aku kamu jadi kecelakaan! Aku bawain black forest bikinan Mama, khusus buat kamu! Utangku dulu!”
“Makasih! Dua hari ini gimana hubunganmu sama Nenek sihir itu?”
“Tau ah… udah out of order!”
“Perasaan kamu sebenarnya gimana sih?”
“Je’t Aime!” ucap Geryn penuh perasaan. Jantungku kembali bertabuh bunyi perkusi.
“Kamu serius, Ger?”
“Aku nggak pernah seserius ini! Apakah kamu sama seperti aku?”
“Iya! Tapi kamu pernah bilang kalau Je’t Aimer itu ucapan perpisahan!”
“A… aku bohong! Je’t Aimer itu artinya aku sayang kamu!”
“Aku juga tau sejal pertamakali kamu mengucapkan itu. Aku kan kursus bahasa Prancis!”
“Oh… begonya aku!” kata Geryn sambil menepuk keningnya. Gondok la yaw!
SMUNSTAR, 13 Februari 1999

Majalah Aneka Yess!, 1999

6:42 PM | Posted in , | Read More »

Biografi Leonard Kleinrock - Penemu Internet (Bapak Internet)

Leonard Kleinrock (lahir di New York City, New York, Amerika Serikat, 13 Juni 1934; umur 77 tahun) adalah seorang insinyur dan ilmuwan Amerika Serikat yang disebut sebagai penemu internet atau Bapak Internet. Seorang profesor ilmu komputer di UCLA Henry Samueli Sekolah Teknik dan Sains, ia membuat kontribusi penting beberapa bidang jaringan komputer, khususnya untuk sisi teoritis jaringan computer. Ia dikenal karena kontribusinya dalam dunia jaringan. Karyanya yang paling terkenal dan signifikan adalah teori pertukaran paket melalui makalahnya di tahun 1959 dan di tahun 1961 tentang pertukaran paket dalam kaitannya dengan paket teknologi yang merupakan cikal bakal teknologi internet .

Pada tanggal 29 Oktober 1969 ia menciptakan salah satu penemuan terbesar menjelang abad modern yaitu Internet yang secara tidak sengaja berhasil memecahkan kode digital dan menjadikannya sebagai paket-paket yang terpisah. Leonard Kleinrockpun adalah salah satu pelopor jaringan komunikasi digital, dan membantu membangun ARPANET.

Kleinrock lahir pada tanggal 13 Juni 1934 di Kota New York, ia lulus dari Bronx High School of Science pada tahun 1951 dan ia menerima gelar Sarjana Teknik elektro dan ilmu Komputer 1957 dari City College of New York. Di tahun 1959 dan 1963, ia mendapatkan gelar master dan doktor (Ph.D.) di bidang teknik elektro dan ilmu komputer dari Institut Teknologi Massachusetts. Setelah menyelesaikan pendidian ia kemudian bergabung dengan fakultas di Universitas California di Los Angeles (UCLA), Sekolah Teknik dan Sains Terapan dimana ia bekerja di sana sebagai profesor ilmu komputer.

Pesan pertama ARPANET dikirim oleh UCLA, mahasiswa programmer Charley Kline, pukul 10.30 WIB, 29 Oktober 1969 dari boelter Hall 3420. Ia dibimbing oleh Kleinrock. Kline ditransmisikan dari Universitas Komputer SDS Sigma ke Stanford. Dua huruf yaitu LO diketik pada keyboard di Universitas California, Los Angeles (UCLA), dan muncul pada layar di Stanford Research Institute, 314 mil jauhnya. Para ilmuwan komputer bermaksud untuk instruksi LOGIN, tetapi sambungan ini hilang tepat sebelum G.

Pada tahun 1988, Kleinrock adalah ketua kelompok Jaringan Penelitian Nasional untuk Kongres AS. Laporan ini sangat berpengaruh dan digunakan untuk mengembangkan Computing High Performance UU tahun 1991 yang berpengaruh dalam perkembangan Internet seperti yang dikenal saat ini. Pendanaan dari RUU itu digunakan dalam pengembangan browser web tahun 1993 Mosaic , di National Center for Supercomputing Applications (NCSA).

Sekarang ini Teknologi internet hadir sebagai media multifungsi. Komunikasi melalui internet dapat dilakukan secara interpesonal (misalnya e-mail dan chatting) atau secara masal misalnya mailing list. Internet juga mampu hadir secara real time audio visual seperti pada metoda konvensional dengan adanya aplikasi teleconference.

Dia telah menerima banyak penghargaan. Kleinrock dipilih untuk menerima penghargaan bergengsi yaitu Nasional of Science, sebuah kehormatan ilmiah bangsa, dari Presiden George W. Bush di Gedung Putih pada tanggal 29 September 2008. mendapatkan penghargaan The 2007 National Medal of Science dalam memberikan kontribusi fundamental kepada teori matematika jaringan data modern, dan untuk spesifikasi fungsional switching paket, yang merupakan dasar teknologi internet generasi mentoring.

Referensi :

- http://id.wikipedia.org/wiki/Leonard_Kleinrock

1:35 AM | Posted in | Read More »

Personel 7 Icon Non Muslim Ikut Puasa


Demi menghormati tiga personil 7 Icon yang menjalankan ibadah puasa, empat personil lainnya juga turut berpuasa.

Toleransi yang dibangun ditunjukan, personil non muslim dengan membangunkan serta menyiapkan makanan sahur bagi personil yang berpuasa.

"Personel kita yang puasa tiga orang, tapi semuanya puasa. Toleransinya saling ingatin aja. Selain puasa makanan, sering bangunin kalau sahur karena kita satu basecamp," ujar Lizzy saat ditemui di Barcode Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (12/8/2011).

Selain saling mengingatkan, dukungan personil non muslim dengan turut berpuasa menambah erat kekompakkan diantara mereka.

"Karena puasa jauh dari keluarga dan orang tua. Mereka turut berpuasa bikin kita enggak sedih," jelas Metzy.

Bahkan diceritakan Metzy, untuk mengingatkan personil yang berpuasa, salah satu personil non muslim dengan indah dapat mengkumandangkan suara adzan saat subuh dan maghrib tiba.

"Iya, bahkan diantara kita ada yang pintar Adzan walaupun non muslim. Jadi ya kadang-kadang saling ingetin aja," jelasnya bangga.

12:55 AM | Posted in , | Read More »

Game di Google+ Mulai Diluncurkan


Permainan sosial untuk layanan jejaring sosial Google+ akhirnya menjadi kenyataan. Namun baru segelintir anggota yang bisa mendapatkan akses game tersebut.

Ya, Google+ secara resmi mengumumkan kehadiran sejumlah game sosial pada platformnya, Jumat (12/8/2011). Tawaran baru ini memungkinkan pengguna Google+ memainkan game langsung dari jejaring sosial tersebut, di mana beberapa game juga bisa ikut dimainkan pengguna Google+ lainnya.

Beberapa game yang sudah hadir di Google+ termasuk Angry Birds (Rovio), Bejeweled Blitz (PopCap) dan Poker (Zynga). Menurut Engineering Director Google David Glazer, pihaknya memang sengaja hanya meluncurkan sedikit game sebagai pemanasan.

Namun Glazer menegaskan Google secara perlahan terus menambah pengembang maupun fitur game sebelum layanan ini benar-benar terbuka untuk semua anggota Google+, demikian dilansir Cnet.

Lantas, kapan tepatnya pengguna Google+ bisa mendapat akses game tersebut? Senior Vice President of Engineering Google Vic Gundotra menjelaskan bahwa fitur ini secara bertahap dibuka untuk komunitas Google+, namun semua pengguna bisa mendapatkannya “dalam waktu dekat”.

"Layanan jejaring sosial Google+ sendiri masih membutuhkan undangan (dari user lain), sehingga pengguna harus mendaftar terlebih dulu untuk mengkasesnya," tambah Gundotra.

Gundotra juga menjelaskan bahwa pengguna hanya bisa melihat update jika mereka memainkan game yang bersangkutan, sehingga tidak membuat stream mereka 'sesak'.

"Jika anda tidak tertarik dengan game, sangat mudah untuk membiarkannya. Stream anda akan tetap fokus pada percakapan dengan orang-orang yang anda pedulikan," tuntas Gundotra.

Sumber: Okezone.com

12:53 AM | Posted in , , | Read More »

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented